PERAN PERHUMAS DAN FORKOM HUMAS PERTI MALANG RAYA: “STRATEGI MENGKOMUNIKASIKAN GERAKAN AYO SEKOLAH KE MALANG” Oleh: Zulkarnain Nasution**

A. Pendahuluan

Perubahan pengelolaan pendidikan di suatu negara dengan kecenderungan pelimpahan wewenang sepenuhnya kepada pemerintah lokal daripada mengkonsentrasikan pengelolaanya di tingkat pusat adalah paradigma baru di banyak negara, termasuk di
negara kita dengan sistem otonomi daerahnya.

Pendidikan di Indonesia saat ini tengah dikembangkan sebagai pendidikan berbasis keunggulan daerah. Bagaimana pemahaman dan persepsi para pendidik, praktisi, pemerintah dan tokoh masyarakat tentang pendidikan berbasis keunggulan daerah menarik untuk dicermati. Misalnya bagaimana pemerintah daerah mengembangkan kebijakan pendidikan dengan prinsip mengangkat karakter daerah dan mengangkat karakteristik lembaga pendidikan yang ada di daerah sebagai potensi daerah dengan membrandingkan sebagai kota pendidikan.

B. Malang Sebagai Kota Pendidikan
Kota Malang sebagai kota pendidikan khususnya, dan Malang Raya umumnya sudah cukup lama memiliki visi Tribina Cita Kota Malang, salah satunya adalah “Malang Sebagai Kota Pendidikan”. Banyak keunggulan yang dimiliki kota Malang sebagai pilihan tempat untuk studi pendidikan yang membedakannya dengan daerah lain. Karakteristik kota Malang khususnya, dan Malang Raya: (a) masyarakatnya ramah, (b) kota sejuk dan nyaman, (c) kota yang tidak terlalu besar namun fasilitas lengkap, (d) fasilitas pembejaran yang lengkap,

(e) biaya hidup relatif murah, (f) kota religius, (g) animo orang tua untuk menyekolahkan putra/putrinya ke Malang masih cukup besar, karena partisipasi masyarakat cukup tinggi dalam menjaga ketertiban agar citra negatif kota pendidikan menjadi “kumpul kebo, narkoba, dan sebagainya tidak terbentuk, (h) Malang juga merupakan salah satu dari dua kota yang paling aman di Indonesia, dan (i) Selain itu pilihan perguruan tinggi lengkap dan bervariasinya, universitas di Malang sebanyak ± 13 universitas, ± 7 sekolah tinggi, ± 3 politeknik, ± 2 Institut, ± 3 Akademi, ± 13 lembaga pendidikan stara D1 dan D2, dan ± 6 lembaga pendidikan belajar, dan puluhan lembaga pendidikan non formal yang ada di Malang.

Sayangnya ada beberapa kendala yang dihadapi antara lain: (1) informasi tentang studi pendidikan atau kuliah di Malang Raya, khususnya kota Malang masih minim, dan terlambat sampai di sekolah-sekolah, (2) Semakin berkurangnya minat lulusan SMTA dan sederajat melanjutkan ke perguruan tinggi, (data ini dapat dilihat dari semakin menurunnya pendaftar SNMPTN di Lokal Malang berjumlah 20.447 peserta dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya), (3) Adanya perubahan minat prodi, dimana fenomena jurusan atau program studi yang tidak vaforit, seperti: kelautan, perikanan, dan pertanian, (4) Belum terkoordinasinya gerakan ayo sekolah ke Malang.

Slogan baru bagi kota pendidikan itu, “Malang Asoy,” yang berarti Malang sebagai tujuan wisata yang penuh dengan kenyamanan dan mengasyikan. Selain itu kata Asoy juga mengartikan kota Malang yang asyik akan mampu membuka peluang menempuh pendidikan secara nyaman, aman dan penuh kehangatan.

Sangat minimnya informasi tentang sekolah dan perguruan tinggi di Malang, menyebabkan para calon siswa dan mahasiswa dari luar kota Malang, jawa timur, pulau jawa, dan luar pulau jawa yang belum begitu banyak mengetahui secara lebih dalam tentang Malang. Walaupun sudah ada iklan-iklan perguruan tinggi di Malang yang dimuat di media televisi nasional, akan tetapi perlu dilakukan gerakan yang sama dalam strategi mengkomunikasikan gerakan “Ayo Sekolah ke Malang”.

C. Strategi Mengkomunikasikan Gerakan Ayo Sekolah ke Malang

Strategi yang harus dilakukan dalam mengkomunikasikan dan implementasi gerakan ayo sekolah ke Malang, antara lain:
1. Membangun jejaring informasi dengan Perhumas di daerah lain, pemerintah daerah,
organisasi se-profesi, melalui media TIK.
2. Merencanakan dan melaksanakan suatu event yang terkoordinasi dan melibatkan
semua unsur: pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, jasa event
organizer, dan lembaga lainnya yang terkait dengan gerakan ini.
3. Menggali konsep dan format yang jelas tentang pendidikian berbasis keunggulan
lokal.
4. Melakukan doble degree dan twinning program dengan perguruan tinggi di luar pulau jawa dan internasional dengan perguruan tinggi di Malang, misalnya kuliah 3 tahun di perguruan tinggi asalnya dan 1 tahun di perguruan tinggi di Malang yang izajah kelulusannya diakui oleh kedua institusi pendidikan tersebut.
5. Meningkatkan sarana dan prasarana mendukung kualitas pendidikan yang ada di Malang.
6. Merancang media-media public relations (humas) untuk mengkomunikasikan dan
mempromosikan Malang sebagai kota pendidikan. Selain itu juga promosi Malang
Raya sebagai kota wisata dan kota perdagangan perlu promosikan.
7. Mempublikasikan semua lembaga pendidikan dan pilihan perguruan tinggi dan
bervariasinya program studi, sistem pembelajaran yang kreatif dan mandiri,
kurikulum yang memenuhi standar nasional dan internasional, fasilitas pembejaran
yang lengkap, dan kegiatan mahasiswa (UKM) yang inovatif dan kreatif.

Strategi mengkomunikasi yang paling pokok adalah menyentuh pada pola pikir publik. Perhumas dan Forkom Humas harus memainkan peran sebagai mesin transformasi pola pikir tersebut . Selama ini tranformasi komunikasi belum menjadi suatu gerakan bersama antar lembaga pendidikan dan pemerintah daerah yang ada di Malang. Padahal banyak potensi Malang Raya yang bisa diwartakan kepada publik melalui peran humas. Potensi Malang Raya merupakan modal utama membangun “branding” sebagai kota pendidikan.
“Kalau image Malang sebagai kota pendidikan ini positif, maka semua hal yang beridentitas Malang Raya juga akan positif.
Strategi dalam komunikasi humas merupakan perpaduan antara communication planning (perencanaan komunikasi) dan management communication (komunikasi manajemen).Tujuan sentral huma adalah mengacu kepada kepentingan pencapaian sasaran (target) atau tujuan untuk menciptakan suatu citra dan reputasi postitif suatu lembaga dan kota Malang. Pembentukan, pemeliharaan dan peningkatan citra dan reputasi positif harus didukung kebijakan dan komitmen pimpinan puncak, lembaga pendidikan, dan semua unsure. Kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun tulisan adalah salah satu penyampaian pesan, ide, dan gagasan program kerja, dan sekaligus membentuk opini atau menguasai pendapat umum sesuai dengan yang diinginkan komunikator.
Seorang praktisi humas dapat berkomunikasi dengan efektif dan tepat dalam penyampaian pesan kepada sasaran melalui empat syarat: 1) pesan dibuat sedemikian rupa dan selalu menarik perhatian; 2) pesan dirumuskan dan mencakup pengertian dan diimbangi dengan lambang-lambang yang dapat dipahami oleh publiknya; 3) pesan menimbulkan kebutuhan pribadi komunikannya (penerima pesan); dan 4) pesan merupakan kebutuhan yang dapat dipenuhi sesuai dengan situasi komunikan.Mengingat pula bahwa komunikasi adalah semua prosedur di mana pikiran seseorang mempengaruhi orang lain, juga fenomena komunikasi adalah serba ada dan serba luas dan serba makna (Ardianto-Q-Anees. 2007: 17), selain mampu berkomunikasi secara efektif, seorang pejabat humas pun harus mampu menggunakan media secara efektif, baik itu media massa maupun media non-massa. Di mana aneka pesan melalui sejumlah media massa (koran, majalah, radio siaran, televisi, film dan media online/internet) selalu menerpa kehidupan manusia (Ardianto-Komala-Erdinaya. 2004: 1)
Oleh karena itu peran Perhumas dan Forkom Humas Malang Raya sebagai organisasi profesi harus melakukan inovasi dan kreatif untuk mentranformasikan komunikasi gerakan “Ayo Sekolah ke Malang. Sebagaimana Anggaran Perhumas Tujuan Perhumas Indonesia adalah turut berkontribusi dalam memberikan komunikasi dan informasi pada masyarakat. Sedangkan visi Perhumas adalah “Mengembangkan kompetensi para professional humas (Public Relations) di Indonesia untuk mendukung pengembangan citra positif dan reputasi Institusi, daerah, dan bangsa Indonesia.
Kelebihan-kelebihan itu adalah modal utama membangun “branding” Malang.
Karena “brand” Malang yang kuat sebagai kota pendidikan dan bahkan pendidikan internasional akan menarik minat calon siswa dan mahasiswa serta orang tua untuk studi pendidikan di Kota Malang khususnya, dan Malang Raya umumnya.

D. Penutup
Di akhir tulisan ini, saya ingin menggarisbawahi, peran humas dalam perguruan tinggi di era kompetisi bukan suatu yang bisa ditawar-tawar lagi atau ditunda, tetapi sudah masuk kepada skala prioritas utama dari berbagai program perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, sehingga pembentukan, pemeliharaan citra dan reputasi positif menjadi prioritas pula.
Gerakan Ayo Sekolah ke Malang harus didukung oleh semua unsur pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga swasta, dan masyarakat secara terintegrasi, terkoordinasi, dan dikomunikasikan kepada masyarakat di Malang dan luar Malang guna mewujudkan Malang sebagai kota pendidikan Internasional. Semoga gerakan Ayo Sekolah ke Malang dapat kita wujudkan bersama dengan aksi nyata.

**Ketua Perhumas Malang Raya dan Kepala Humas Universitas Negeri Malang (UM)
(Makalah disampaikan pada Dialog Interaktif Pertemuan Berkala Forkom Humas Perti Malang Raya ke-13, tema “Gerakan Ayo Sekolah ke Malang, tanggal 5 Agustus 2009, di Universitas Kanjuruhan Malang)

Iklan

~ oleh zulkarnainnst pada Agustus 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: